Senin, 04 Juli 2011

ASKEB BENDUNGAN ASI

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.  LATAR BELAKANG
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil, bersalin, nifas adalah masalah besar di negara berkembang, kesalahan perawatan pada masa-masa tersebut dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi antara lain perdarahan, infeksi dan eklampsia post partum, tingginya AKI di Indonesia (SDKI, 2003), yaitu di ASEAN, menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas (www.google.com). Menurut WHO (World Health Organisation) melalui pemantauan ibu meninggal di berbagai belahan dunia memperkirakan bahwa setiap tahun jumlah 500.000 ibu meninggal disebabkan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes, 2002).
Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka Kematian Bayi ( AKB ) merupakan salah satun faktor paling sensitive yang menggambarkan kesehatan ibu dan anak. AKI dan AKB di Indonesia masih sangat tinggi, terbukti dengan adanya kematian ibu yang bervariasi antara 5 sampai 100.000 per kelahiran hidup. Dan kematian perinatal yang berkisar antara 25 sampai 750 per kelahiran hidup. Angka kematian ibu tersebut harus dapat ditekan menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi ditekan menjadi 49,8 per 1000 kelahiran hidup.
Dalam periode sekarang ini asuhan masa nifas sangat diperlukan karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayi. Diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. (Prawirohardjo, 2005).
Komplikasi post partum dapat terjadi pada pertolongan persalinan yang tidak memperhatikan syarat asepsis-antisepsis, partus lama, ketuban pecah dini, atonia uteri, personal higiene yang kurang, oleh karena itu asuhan pada masa nifas sangat diperlukan karena masa nifas adalah masa kritis baik bagi ibu maupun bayinya, diperkirakan bahwa kematian ibu 60% akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 40% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.  (Abdul Bari Syaifuddin, 2002 : 14)
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kedokteran diharapkan kematian maternal akibat perdarahan post partum dapat lebih ditekan terlebih ditunjang oleh tenaga kesehatan yang profesional, terampil dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.

1.2. TUJUAN PENULISAN
I.2.1. Tujuan Umum
Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengetahuan dalam memecahkan masalah khususnya pada  “ Asuhan Kebidanan pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI  Di Ruang Bersalin RS Brawijaya Surabaya .”

I.2.2.Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang akan dicapai adalah mampu melakukan :
1.      Melakukan Pengkajian baik secara subyektif maupun obyektif kepada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
2.      Mengintepretasikan data dasar dan merumuskan diagnosa kebidanan pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
3.      Menentukan diagnosa potensial pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
4.      Menentukan tindakan segera pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
5.      Membuat rencana asuhan kebidanan pada pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
6.      Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  
7.      Mengevaluasi tindakan asuhan kebidanan pada NY ”C” P10001 Post Partum hari ke-4 Dengan Bendungan ASI.  

1.3. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam proses penyusunan laporan ini adalah :
1.   Metode pendekatan deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa dan gejala yang terjadi.
2.   Teknik pengumpulan data dan pengidentifikasian data melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, studi dokumen dan studi kepustkaan.
3.   Sumber data primer dari klien dan data sekunder dari keluarga dan petugas kesehatan.




1.4. LOKASI  DAN  WAKTU
1.4.1. LOKASI
   Asuhan Kebidanan ini disusun saat penulis melaksanakan praktek lapangan di ruang di Ruang bersalin RS TK III Brawijaya Surabaya.

1.4.2. WAKTU
Penyusunan asuhan kebidanan ini dilakukan pada saat jam kerja ruang bersalin sip pagi yaitu pukul 07.00 s/d 14.00 WIB.

1.5. SISTEMATIKA  PENULISAN
      Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari :
      LEMBAR JUDUL
      LEMBAR PENGESAHAN
      KATA PENGANTAR
      DAFTAR ISI
      BAB I        Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, lokasi dan waktu, serta sistematika penulisan.
BAB II       Landasan teori meliputi Konsep Dasar Nifas terdiri dari : Definisi, Klasifikasi Nifas, Perubahan System Tubuh Yang Terjadi Selama Masa Nifas, Konsep Dasar Bendungan ASI terdiri dari : Definisi, gejala, Faktor Predisposisi, Diagnosis, Penilaian Klinik, Penanganan Perdarahan post partum, Komplikasi, Pencegahan, Pertolongan khusus, Konsep Dasar Asuhan Kebidanan terdiri dari : Pengkajian Data, Interpretasi Data, Identifikasi Diagnosa Potensial, Kebutuhan Tindakan Segera, Intervensi, Implementasi, Evaluasi.
      BAB III      Tinjauan kasus meliputi Pengkajian Data, Interpretasi Data, Identifikasi Diagnosa Potensial, Kebutuhan Tindakan Segera, Intervensi, Implementasi, Evaluasi.
      BAB IV     Penutup meliputi kesimpulan dan saran.
      DAFTAR PUSTAKA






BAB 2
LANDASAN TEORI


2. 1. KONSEP DASAR NIFAS
2.1.1.      Definisi
Masa nifas (Puerperium)  adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau ± 40 hari (Prawirohardjo, 2002 : 122).
Nifas adalah masa partus selesai dan berakhir setelah kira – kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum hamil dalam waktu 3 bulan. (hanifa wiknojosastro, 2006 : 237).
Masa nifas (puerperium) adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil. (Helen varney, 2007 : 958).

2.1.2.      Klasifikasi Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung lama kira-kira 6 minggu. (sarwono prawirohardjo, 2002 : 122). Nifas dapat dibagi kedalam 3 periode :
a.    Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.           
b.    Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
c.    Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurnah baik selama hamil atau sempurna. Terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bias berminggu – minggu, berbulan – bulan atau tahunan (Rustam Mochtar, 1998).

2.1.3.   Perubahan System Tubuh Yang Terjadi Selama Masa Nifas
     a. Perubahan tanda – tanda vital
     Ù Tekanan darah
            Segera setelah melahirkan banyak wanita mengalami peningkatan sementara tekanan darah sistolik dan diastolic, yang kembali secara spontan ke tekanan darah sebelum hamil dalam ½ bulan tanpa pengobatan apabila tidak terdapat penyakit – penyakit lain yang menyertai.
Ù Suhu
                  Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit meningkat selama periode intrpartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37, 2 °C dan satu hari (24 jam). Dapat  naik  ≤ 0,5 °C dari keadaan normal menjadi sekitar  (37,5°C - 38°C). namun tidak akan melebihi 38°C. hal ini sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Sesudah 2 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal.
                   Ù Nadi
                                    Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal setelah beberapa jam pertama pascapartum. Hemoragi, demam selama persalinan dan nyeri akut atau persisten dapat mempengaruhi proses ini. Apabila denyut nadi di atas 100 selama puerperium, hal tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi atau hemoragi pascapartum lambat.
                   Ù Pernafasan
                                    Fungsi pernafasan kembali pada rentang normal wanita selama jam pertama pascapartum. Nafas  pendek, cepat atau perubahan lain memerlukan evaluasi adanya kondisi – kondisi seperti kelebihan cairan, eksaserbasi asma dan embolus paru. (Helen vaney , 2007 : 961)

b. Perubahan system reproduksi
Ù Involusi Uterus
            Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 30 gram. (www.sweety.com). Involusi uteri dapat juga dikatakan sebagai proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil. Involusi uterus meliputi pengreorganisasian dan pengguguran desidua serta pengelupasan situs (tempat) plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokia.
Penurunan ukuran yang cepat ini dicerminkan dengan perubahan lokasi uterus ketika uterus turun dari abdomen dan kembali ke organ panggul. Segera setelah lahirnya plasenta, tinggi fundus uteri (TFU) terletak sekitar dua per tiga hingga tiga per empat bagian atas antara simfisis pubis dengan umbilikus. Letak TFU kemudian naik sejajar dengan atau satu ruas jari dibawah umbilikus. Selama satu atau dua hari dan secara bertahap turun kedalam panggul sehingga tidak dapat di palpasi lagi di atas simfisis pubis setelah hari ke sepuluh pascapartum. (Helen varney, 2007 : 959).
Gambar        : TFU dan involusi Uterus








       
            Uterus segera setelah kelahiran bayi, plasenta dan selaput janin beratnya sekitar 1000 gram. Kemudian setelah 1 minggu berat uterus menurun sekitar 750 gram dan uterus turun sampai kembali pada berat yang biasanya pada saat tidak hamil yaitu 30 gram pada minggu ke delapan  pascapartum. (Helen varney, 2007 : 959).
Tabel TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
TFU
Berat Uterus
Bayi lahir
Setinggi pusat, 2 JbPst*
1000 gram
1 minggu
Pertengahan pusat simfisis
750 gram
2 minggu
Tidak teraba di atas simfisis
500 gram
6 minggu
Normal
50 gram
8 minggu
Normal tapi sebelum hamil
30 gram
            * JbPst =>   Jari di bawah Pusat
                        Otot – otot uterus berkontraksi segera setelah postpartum. Pembuluh – pembuluh darah yang berbeda diantara anyaman otot uterus akan terjepit.. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Setiap kali otot – otot uterus berkontraksi, fundus uteri berada di atas umbilikus. Maka hal – hal yang perlu dipertimbangkan adalah pengisian uterus oleh letak darah atau pembekuan darah awal jam postpartum atau pergeseran uterus karena kandung kemih yang penuh setiap saat setelah kelahiran. Untuk itu apabila ibu ingin berkemih harus cepat dapat dilakukan sendiri. Bila kandung kencing penuh & wanita tidak dapat berkemih sendiri, sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai infeksi. (Sitti Saleha, 2009 : 55)
Desidua yang tersisa di dalam uterus setelah pelepasan dan ekspulsi plasenta dan membrane terdiri dari lapisan zona basalis  dan suatu bagian lapisan zona spongiosa pada desidua basalis (pada tempat perlekatan plasenta) dan  desidua parientalis (lapisan sisa uterus). Desidua yang tertinggal ini akan berubah menjadi dua lapis sebagai akibat invasi leukosit yaitu :
1. Suatu degenerasi nekrosis lapisan superficial yang akan terpakai lagi sebagai bagian dari pembuangan lochia dan lapisan dalam dekat miometrium.
2. Lapisan yang terdiri dari sisa-sisa endometrium di lapisan basalis. Endometrium akan diperbaharui oleh proliferasi epithelium endometrium. Regenerasi endometrium diselesaikan selama pertengahan atau akhir dari postpartum minggu ketiga kecuali di tempat implantasi plasenta. Dengan involusi uterus ini, maka lapisan luar dari decidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Decidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan, suatu campuran antara darah yang dinamakan lochia, yang biasanya berwarna merah muda atau putih pucat. Pengeluaran Lochia ini biasanya berakhir dalam waktu 3 sampai 6 minggu. (www. Sweety.com)
Ù Lochea
            Lochea adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas.
Lochea terbagi menjadi tiga jenis yaitu :

Lochea rubra
Lochea sanguilenta
Lochea serosa
Lochea alba
warna
Merah
merah kecoklatan
merah jambu lalu  menjadi kuning
putih
waktu
2 – 3 hari pp
3 – 7 hari pp
7 – 14 hari pp
Setelah 14 hari pp
Berisi
sisa  selaput ketuban, sel  desidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium
Sisa darah dan jaringan desidua
cairan serum, jaringan desidua, leukosit dan eritrosit
leukosit dan sel-sel desidua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar